Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi: Waktu Karya W.S. Rendra

Puisi: Waktu Karya W.S. Rendra

Jabarkelana - Puisi: Waktu Karya W.S. Rendra adalah salah satu penyair terkemuka Indonesia yang karyanya banyak menggugah hati dan pikiran pembacanya. Salah satu puisi yang terkenal dari W.S. Rendra adalah puisi berjudul “Waktu” yang dimuat dalam kumpulan sajaknya yang berjudul “Empat Kumpulan Sajak” pada tahun 1961. Puisi ini merupakan salah satu karya awal W.S. Rendra yang menunjukkan bakat dan kepekaannya sebagai penyair.


Waktu



Waktu seperti burung tanpa hinggapan

melewati hari-hari rubuh tanpa ratapan

sayap-sayap mu'jizat terkebar dengan cekatan.


Waktu seperti butir-butir air

dengan nyanyi dan tangis angin silir

berpejam mata dan pelesir tanpa akhir.

Dan waktu juga seperti pawing tua

menunjuk arah cinta dan arah keranda.



Sumber: Empat Kumpulan Sajak (1961)


Analisis Puisi

Puisi “Waktu” karya W.S. Rendra memiliki beberapa hal menarik yang dapat kita analisis, antara lain:

Puisi: Waktu karya W.S. Rendra adalah sebuah puisi yang menggambarkan perjalanan waktu sebagai sesuatu yang abadi, dinamis, dan tak terelakkan. Puisi ini menggunakan berbagai metafora dan personifikasi untuk menggambarkan sifat-sifat waktu yang berbeda-beda. Puisi ini juga mengajak pembaca untuk merenungkan makna waktu dalam kehidupan manusia, baik dalam hal keindahan, ketidakpastian, maupun kematian.

Sudut pandang yang unik yang dapat digunakan untuk menganalisis puisi ini adalah sudut pandang waktu itu sendiri. Bagaimana jika kita membayangkan bahwa waktu adalah seorang narator yang bercerita tentang dirinya sendiri dalam puisi ini? Bagaimana ia melihat dirinya sendiri dan hubungannya dengan manusia? Bagaimana ia merasakan perasaan dan pikiran manusia yang terpengaruh olehnya? Berikut adalah analisis puisi dengan sudut pandang waktu:

  • Pada bait pertama, waktu menggambarkan dirinya sebagai burung yang terbang tanpa hinggapan, melewati hari-hari yang rubuh tanpa ratapan. Waktu merasa bahwa ia adalah sesuatu yang bebas dan tidak terikat oleh apapun. Ia tidak peduli dengan apa yang terjadi pada manusia yang hidup di bawahnya. Ia hanya menikmati pergerakannya yang cepat dan cekatan, yang ia anggap sebagai mu’jizat.
  • Pada bait kedua, waktu menggambarkan dirinya sebagai butiran air yang berpejam mata dan pelesir tanpa akhir. Waktu merasa bahwa ia adalah sesuatu yang halus dan lembut, yang dapat menyentuh dan membasahi segala sesuatu. Ia mendengar nyanyian dan tangis angin yang mengiringi perjalanannya. Ia merasakan kesedihan dan kebahagiaan manusia yang bergantung padanya. Ia tetap berpejam mata, karena ia tidak mau melihat kenyataan yang pahit.
  • Pada bait ketiga, waktu menggambarkan dirinya sebagai pawang tua yang menunjuk arah cinta dan arah keranda. Waktu merasa bahwa ia adalah sesuatu yang bijak dan berkuasa, yang dapat menentukan nasib dan takdir manusia. Ia menunjukkan arah cinta, yang merupakan sumber kebahagiaan dan harapan manusia. Ia juga menunjukkan arah keranda, yang merupakan akhir dari kehidupan dan kesengsaraan manusia. Ia merasakan tanggung jawab dan kasihan terhadap manusia yang hidup di bawah kendalinya.

Dengan menggunakan sudut pandang waktu, kita dapat melihat puisi ini dari perspektif yang berbeda. Kita dapat memahami bagaimana waktu melihat dirinya sendiri dan hubungannya dengan manusia. Kita dapat merasakan bagaimana waktu merasakan perasaan dan pikiran manusia yang terpengaruh olehnya. Kita dapat menemukan makna yang lebih dalam dan kompleks dari puisi ini.

WaRgA SiPiL
WaRgA SiPiL Mengutip sabda Rasulullah, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad). Besar harapan saya semoga hadirnya Blog ini. bisa memberikan manfaat bagi Anda.

Posting Komentar untuk "Puisi: Waktu Karya W.S. Rendra"