Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi: Sebuah Jaket Berlumur Darah (Karya Taufiq Ismail)

Puisi: Sebuah Jaket Berlumur Darah (Karya Taufiq Ismail)

Jabarkelana - Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang dapat mengungkapkan perasaan, pikiran, dan pandangan penulisnya tentang suatu hal. Puisi juga dapat menjadi sarana untuk menyampaikan kritik, protes, atau dukungan terhadap suatu isu sosial, politik, atau budaya. Salah satu contoh puisi yang memiliki makna mendalam dan relevan dengan sejarah bangsa Indonesia adalah puisi “Sebuah Jaket Berlumur Darah” karya Taufiq Ismail.

Puisi "Sebuah Jaket Berlumur Darah" karya Taufiq Ismail memotret suasana konflik dan perjuangan dengan cara yang penuh makna


Sebuah jaket berlumur darah

Kami semua telah menatapmu

Telah berbagi duka yang agung

Dalam kepedihan bertahun‐tahun


Sebuah sungai membatasi kita

Di bawah terik matahari Jakarta

Antara kebebasan dan penindasan

Berlapis senjata dan sangkur baja


Akan mundurkah kita sekarang

Seraya mengucapkan 'Selamat tinggal perjuangan'

Berikrar setia kepada tirani

Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?


Spanduk kumal itu, ya spanduk itu

Kami semua telah menatapmu

Dan di atas bangunan‐bangunan

Menunduk bendera setengah tiang


Pesan itu telah sampai kemana‐mana

Melalui kendaraan yang melintas

Abang‐abang beca, kuli‐kuli pelabuhan

teriakan‐teriakan di atas bis kota, pawai‐pawai perkasa

Prosesi jenazah ke pemakaman

Mereka berkata

Semuanya berkata

LANJUTKAN PERJUANGAN!


Latar Belakang Puisi

Taufiq Ismail adalah seorang penyair, sastrawan, dan aktivis yang lahir pada tahun 1935 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia dikenal sebagai salah satu anggota Angkatan 66, yaitu kelompok sastrawan yang terlibat dalam gerakan mahasiswa yang menentang rezim Orde Lama di bawah Presiden Soekarno. Angkatan 66 juga mendukung gerakan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, yang dianggap sebagai pahlawan reformasi dan pembangunan.

Puisi “Sebuah Jaket Berlumur Darah” ditulis oleh Taufiq Ismail pada tahun 1966, yaitu tahun yang penuh dengan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Pada tahun itu, terjadi peristiwa G30S/PKI, yaitu percobaan kudeta yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menewaskan enam jenderal Angkatan Darat. Peristiwa ini memicu aksi pembantaian massal terhadap anggota dan simpatisan PKI, yang diperkirakan mencapai ratusan ribu orang. Peristiwa ini juga menjadi alasan bagi Soeharto untuk mengambil alih kekuasaan dari Soekarno melalui Supersemar, yaitu surat perintah yang memberikan wewenang penuh kepada Soeharto untuk mengamankan negara.

Puisi “Sebuah Jaket Berlumur Darah” merupakan salah satu puisi yang menggambarkan suasana konflik dan perjuangan yang terjadi pada masa itu. Puisi ini juga merupakan ungkapan rasa duka, prihatin, dan setia terhadap perjuangan untuk kebebasan dan demokrasi. Puisi ini didedikasikan untuk Jenderal Ahmad Yani, salah satu korban G30S/PKI yang dikenal sebagai pahlawan revolusi dan reformasi.


Isi dan Makna Puisi

Puisi “Sebuah Jaket Berlumur Darah” terdiri dari empat bait, dengan jumlah baris yang bervariasi antara empat sampai sepuluh baris. Puisi ini menggunakan bahasa yang sederhana, lugas, dan tegas, tanpa banyak menggunakan majas atau kiasan. Puisi ini juga menggunakan beberapa kata yang memiliki konotasi negatif, seperti darah, duka, penindasan, tirani, dan jenazah, untuk menunjukkan suasana yang suram dan mencekam.

Berikut adalah isi dan makna dari setiap bait puisi:


Bait Pertama

Sebuah jaket berlumur darah

Kami semua telah menatapmu

Telah berbagi duka yang agung

Dalam kepedihan bertahun‐tahun

Bait pertama ini menggambarkan sebuah jaket yang berlumur darah, yang merupakan simbol dari korban yang gugur dalam perjuangan. Jaket ini mewakili Jenderal Ahmad Yani, yang ditemukan tewas dengan jaketnya yang berlumur darah setelah diculik dan dibunuh oleh anggota PKI. Penulis puisi dan orang-orang yang berjuang bersamanya telah menatap jaket itu dengan rasa duka yang mendalam, karena mereka telah bersama-sama mengalami penderitaan dan kesulitan dalam perjuangan mereka selama bertahun-tahun.


Bait Kedua

Sebuah sungai membatasi kita

Di bawah terik matahari Jakarta

Antara kebebasan dan penindasan

Berlapis senjata dan sangkur baja

Bait kedua ini menggambarkan sebuah sungai yang membatasi dua pihak yang bertikai, yaitu pihak yang berjuang untuk kebebasan dan pihak yang melakukan penindasan. Sungai ini mungkin merujuk kepada Sungai Ciliwung, yang memisahkan Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, tempat terjadinya sebagian besar peristiwa G30S/PKI. Di bawah terik matahari Jakarta, yang menunjukkan suasana yang panas dan tegang, kedua pihak ini bersiap-siap untuk bertempur dengan menggunakan senjata dan sangkur baja, yang merupakan alat-alat perang.


Bait Ketiga

Akan mundurkah kita sekarang

Seraya mengucapkan 'Selamat tinggal perjuangan'

Berikrar setia kepada tirani

Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

Bait ketiga ini menggambarkan sebuah pertanyaan retoris yang ditujukan kepada diri sendiri dan orang-orang yang berjuang bersama. Pertanyaan ini menanyakan apakah mereka akan mundur dari perjuangan mereka setelah melihat korban yang gugur, ataukah mereka akan tetap setia dan berani. Jika mereka mundur, maka mereka akan mengucapkan selamat tinggal kepada perjuangan mereka, berikrar setia kepada tirani, yaitu rezim yang otoriter dan korup, dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan, yaitu menjadi orang-orang yang tunduk dan tak berdaya.


Bait Keempat

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu

Kami semua telah menatapmu

Dan di atas bangunan‐bangunan

Menunduk bendera setengah tiang

Pesan itu telah sampai kemana‐mana

Melalui kendaraan yang melintas

Abang‐abang beca, kuli‐kuli pelabuhan

Teriakan‐teriakan di atas bis kota, pawai‐pawai perkasa

Prosesi jenazah ke pemakaman

Mereka berkata

Semuanya berkata

LANJUTKAN PERJUANGAN!


Bait keempat ini menggambarkan sebuah spanduk kumal, yang merupakan simbol dari perjuangan yang telah lama dan melelahkan. Spanduk ini mungkin merujuk kepada spanduk yang bertuliskan “Lanjutkan Perjuangan” yang dibawa oleh para mahasiswa saat mengantar jenazah Jenderal Ahmad Yani ke pemakaman. Penulis puisi dan orang-orang yang berjuang bersama telah menatap spanduk itu dengan rasa hormat dan semangat. Di atas bangunan-bangunan, bendera setengah tiang menunjukkan rasa berkabung dan penghormatan terhadap korban yang gugur. Pesan dari spanduk itu telah sampai ke mana-mana, melalui kendaraan yang melintas, yang mungkin merujuk kepada media massa yang menyebarkan informasi tentang peristiwa G30S/PKI. Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan, teriakan-teriakan di atas bis kota, dan pawai-pawai perkasa, menunjukkan partisipasi dan dukungan dari berbagai lapisan masyarakat terhadap perjuangan untuk kebebasan dan demokrasi. Prosesi jenazah ke pemakaman, yang mungkin merujuk kepada upacara pemakaman Jenderal Ahmad Yani dan jenderal lainnya yang menjadi korban G30S/PKI, menjadi momen yang menggugah dan menginspirasi. Mereka berkata, semuanya berkata, “Lanjutkan Perjuangan!”, yang merupakan seruan yang mengakhiri puisi ini dengan nada yang tegas dan optimis.


Kesimpulan

Puisi “Sebuah Jaket Berlumur Darah” karya Taufiq Ismail adalah sebuah karya sastra yang menggambarkan perasaan keprihatinan.

WaRgA SiPiL
WaRgA SiPiL Mengutip sabda Rasulullah, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad). Besar harapan saya semoga hadirnya Blog ini. bisa memberikan manfaat bagi Anda.

Posting Komentar untuk "Puisi: Sebuah Jaket Berlumur Darah (Karya Taufiq Ismail)"